Bus milik pemerintah terlempar bersama pecahan meriam, kata seorang wartawan foto AFP di tempat kejadian, yang menandakan betapa kuatnya ledakan ranjau itu terjadi di tepi jalan, yang meledak pada saat bus tersebut melewatinya.
“Duapuluh satu orang tewas, delapan di antara mereka adalah wanita,” kata jurubicara polisi Ranjith Gunasekera kepada AFP. Ia menambahkan sekitar 47 orang lainnya cedera akibat ledakan itu.
Juru bicara militer Brigadir Udaya Nanayakkara, menuding serangan itu dilakukan Pembebasan Macan Tamil Eelam (LTTE), yang memberontak untuk mewujudkan negara Tamil terpisah dengan Sri Lanka yang mayoritas berpenduduk Sinhala.
Insiden ini adalah yang terakhir dalam serangan dahsyat terhadap pemakai kendaraan umum di dalam dan sekitar Kolombo. Pada Rabu (4/6), 18 orang juga cedera ketika paket bom yang dipasang Macan Tamil meledakkan kereta api penumpang.
Pada 26 Mei, serangan terhadap kereta api lingkar kota, juga ditudingkan pada LTTE, yang menewaskan sembilan orang serta melukai 84 lainnya.Tiap serangan selalu disusuli komplain LTTE bahwa serangan ranjau terhadap warga sipil yang berada di dalam wilayah utara yang dikuasai
pemberontak, dilakukan oleh tentara pemerintah yang dikenal sebagai satuan penerobos ke dalam.
Para korban aksi pemboman Jum’at mengatakan, bahwa bus terguling akibat kuatnya ledakan. “Saya sedang berdiri di tengah bus ketika suara ledakan keras terjadi dan bus roboh di pinggir jalan,” kata seorang karyawan kantor berumur 21 tahun, Shanika Priyadharshani, ketika diperban di rumahsakit.
“Saya gelap sesaat. Muncul asap hitam, dan orang-orang meninggal di sekeliling saya. Beberapa penumpang lainnya menjerit-jerit minta tolong. Saya juga menjerit minta bantuan dan seseorang kemudian mengeluarkan saya dan membawa saya ke dalam kendaraan yang sedang lewat, lalu membawa saya ke rumahsakit,” katanya kepada AFP.
Permusuhan meningkat tajam di Sri Lanka sejak awal tahun ini, ketika pemerintah menarik diri dari gencatan senjata yang diprakarsai Norwegia dengan Macan Tamil. Sejak itu, kedua pihak saling tuduh menuduh bahwa pihaknyalah yang melakukan aksi kekerasan dengan sasaran penduduk sipil.